Wina's posts with tag: sulam pita
|  | Ini adalah pertemuan yang ke empat kali untuk pelatihan ketrampilan sulam pita bagi ibu2 di Besuki-Porong. Dari semula 50 orang menyusut hingga separoh, tak apalah. Semangat dan antusiasme kan tidak bisa dipaksakan. Mereka yang tersisa ini adalah yang benar2 ingin membunuh waktu dan menghibur diri dari kekhawatiran masa depan yang tak pasti. Maka mereka berharap ketrampilan ini dapat menghasilkan sesuatu yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga.
Di satu sisi aku gembira bahwa ilmu yang aku bagikan ini berguna, tetapi dilain sisi aku khawatir, bagaimana melanjutkan ketrampilan yang sudah mereka miliki agar bisa menjadi kail tang bermanfaat bagi keluarga? Adakah yang peduli pada mereka? |
|  | Sejak bulan puasa (september) lalu, 15 orang ibu2 muda dan beberapa remaja puteri aku berikan kursus sulam pita untuk mengisi waktu kosong mereka, sekedar untuk menghilangkan kejenuhan selama tinggal di pengungsian yang menyesakkan dan tak menentu akibat kehilangan rumah serta kehidupan sosial lainnya sejak kampung mereka tenggelam oleh lumpur panas.
Bayangkan, mereka harus tinggal di sebuah kios, satu kios dihuni 4 keluarga, hanya dibatasi seutas kain per KK. Jangan tanya soal fasilitas, namanya juga pasar.Setelah 8 kali pertemuan, mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Sebetulnya niat awalku hanya memberi ketrampilan, selanjutnya diharapkan mereka dapat mengembangkan sendiri ketrampilannya.
Tetapi menengok situasi, mereka yang tinggal di Pasar Porong Baru (sekarang ada 650-an KK yang tinggal disini) rata2 kehilangan pekerjaan, dan tidak tahu harus berbuat apa menanti ganti rugi dari LAPINDO. Banyak pihak mengadakan baksos dengan memberi pelatihan ini-itu, tetapi setelah itu selesai. Mereka tak memiliki modal maupun lahan untuk mengembangkan pelatihan2 itu.
Akhirnya hatiku terketuk untuk melanjutkan program ketrampilan ini, dengan memberi mereka pekerjaan, menyulam. Baju2 yang telah di jahit oleh penjahitku, aku kirim kepada mereka untuk disulam. Mereka juga menyulam taplak meja, sarung bantal, hiasan dinding, tas, dll. Lalu hasil2 karya mereka aku pajang di toko ku di IBC Jl. Indragiri-Surabaya.
Nah masalahnya, penjualan di toko itu tak selalu bagus. Maka modal pun tersendat. Tetapi aku tak tega untuk tidak memberi mereka pekerjaan lagi. Maka dengan segenap kemampuan yang ada, aku terus melanjutkan proyek ini, sampai mereka semua keluar dari pengungsian pasar Porong.
Rasanya terlalu sempit kalau ku pikir sendiri. Ada ide? |
| |
|