Wina Bojonegoro (Small city where I was born)

Wina's posts with tag: ini bukan kiamat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ini bukan kiamat
Blog EntryHaru Biru di Bulan JuniJul 1, '07 11:33 AM
for everyone

Setiap insan di bumi Indonesia ini mengalami perubahan-perubahan, gejolak dan segala rentetan peistiwa yang sangat menyita perhatian pada bulan Juni dan July. Ada kegembiraan yang meluap, pesta pora kelulusan, pesta kenaikan kelas. Tetapi terdapat puing-puing kesedihan, ratapan, penyesalan, luka oleh ketidak mampuan mengikuti fase lebih lanjut dari sebuah tahapan yang mesti di lalui oleh setiap anak-anak sekolah.

Salah satu anak yang belum berhasil melalui tahapan itu adalah my lovely son, yang seharusnya naik ke kelas XI. Jauh sebelum pengumuman ini aku telah mempersiapkan diri untuk hal paling buruk sekalipun. Tetapi tak urung ketika menyaksikan ia mengalirkan air mata di koridor sekolah di lantai 2 itu, kesunyian mendadak mengelilingi seluruh tubuhku. Ketika ia meminta selembar tisyu untuk menghapus air matanya, aku mendadak terpaku bisu. Ternyata dalam tas ku tak ada selembarpun. Seharusnya aku siapkan ini, bukankah aku tela siap mental? Ingin rasanya menjulurkan ujung jilbabku untuk menghapus air mata lelaki itu, agar harga dirinya tak terkoyak oleh kegagalan. Menyaksikan ia berjalan menuju rest-room sekolah dengan lunglai, meski aku tahu untuk apa, pertahananku runtuh juga.

kami lalu berjalan beriringan menuju ruang kepala sekolah, suatu hal yang tentunya tak perlu jika tak ada berita besar. Wali kelas tersenyum luka ketika menatapku masuk kelas, meski ruangan dingin oleh AC, nampak dia berkeringat. Dengan lembut dia berkata, kami ditunggu di ruang kepala sekolah. Oh God...finally it happen.

Dengan permintaan maaf yang tulus, kepala sekolah yang dulu adalah kepala sekolah anakku ketika SMP, tahu betul riwayat dan segala hal tentang dia, menyampaikan raport hasil belajar yang dikemas demikian lux, semewah fasilitas sekolah yang ternyata tak cukup mampu meningkatkan motivasi ankku lanang. Sejak TK dia sudah menjadi bagian dari sekolah ini, kemudian SD, SMP dan SMA. Pilihanku terhadap sekolah ini tentu bukan karena sekedar sekolah ini full day school, dimana ortu yang bekerja dua-duanya akan merasa tertolong oleh kesibukan dan waktu bekerja. Pilihanku pada sekolah ini hanyalah mengingat Visi dan Misi sekolah, menjadikan anak sholeh yang secara academic di depan sekolah lain.

Bayangkan, ketika anak lulus SD maka dia harus mampu menghapalkan surat-surat dalam Juzz Amma, sekaligus dengan tafsirnya. Bukankah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi orang tua?

Tetapi beberapa hal ternyata tak berjalan semulus harapan. salah satunya kendala psikologis yang harus diterima anak-anak yang tak beruntung seperti dia. Ini bukan soal IQ, tetapi soal psikologis yang harus diterima sejak dia duduk di kelas 4 SD.

Sebagai seorang ibu, gagalkah aku membawanya kepada masa depan lebih baik? Aku sama sekali tak berpikir demikian. gagal adalah sebutan untuk orang yang melihat sisi hidup ini dari angel yang sempit. Tidak, dia tidak gagal. Dia hanya perlu waktu lebih lama dari yang lain untuk menyesuaikan diri. Tak sepenuhnya salah dia, adalah salahku yang tak mampu merengkuhnya dengan sebaik mungkin.

Ketika ayahnya sibuk menelpon kakaknya dan menyarankan pindah sekolah, aku justru berdampingan dengannya yang mencoba memainkan beberapa bait lagu dengan gitar hadiah ulang tahun dariku. Hanya satu kalimat aku bisikkan ke telinganya sambil memeluk pundaknya yang sudah remaja:

"Ini bukan kiamat nak, kamu tak perlu malu menerima kenyataan. Orang sukses tak selamanya cemerlang di sekolah. tapi tahap ini memang harus kamu lalui. Tanya pada hatimu, dimana seharusnya kamu sekolah"

Aku sungguh ingin melihat dia tersenyum kembali, meski aku tahu itu sulit.


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help