Pertama-tama, aku mohon maaf kepada teman2 donatur, karena baru hari ini (kamis) aku melaporkan kegiatan sosial kita, tubuhku yang aku paksa bekerja dan berlari ternyata menolak. Sebetulnya tanda2 kejatuhan itu sudah terasa sejak kamis mg lalu, tetapi aku paksa utk tetap masuk kerja dan bahkan pergi ke Porong untuk menyampaikan amanah rekan2 semua. Meskipun sepulang dari sana, di jalan tol aku terpaksa turun dan muntah2 heheheh norak yah...tapi meski begitu masih sempet ketemuan dengan teman2 ISI di Sutos. Ok lah itu hanya soal kecil, only about my self, sekarang soal yang lebih besar adalah.... Dengan bangga aku mengucapkan terima kasih kepada teman2 se ruangan yang dalam tempo 3 hari bisa mengumpulkan dana sebesar Rp. 4.265.000,- sebagai sumbangan untuk membeli buku2 pelajaran anak2 SD Madrasah Jawaharul Ulum, Besuki- Porong. Dan itupun pagi ini, masih ada lagi yang kirim sumbangan sebesar Rp. 500.000,- dari mbak Prima....GBU ya mbak....
SD Darul Ulum (lebih enaknya demikian) terletak disisi ex jalan tol Surabaya Gempol. Ketika tanggul lumpur jebol 6 bulan lalu, SD berlantai 2 ini tenggelam. Note: Madrasah ini swasta, milik NU. Tetapi sejak peristiwa tenggelam itu hingga saat ini, tak ada seorangpun petinggi NU yang peduli, menengok saja tidak. Jangan tanya bagaimana rumah warga...lihat saja foto2nya...mereka tinggal di tenda dan bedeng ala kadarnya diatas ex jalan tol itu, yang kalau siang terik bukan main dan malam....hmmm...dingin luar biasa.
Uluran tangan pemerintah? jangan tanya pula, masuk peta terdampak saja tidak, maka jangan heran waktu PILKADA jumlah mereka yang nyobols tak sampai 40% karena selama kampanye tak satupun CAGUB yg membuat program utk mereka.Apakah mereka memang tdk peduli atau menganggap mereka tidak exis?
Maka sejak sekolah itu tenggelam, sang kepala sekolah berinisiatif numpang di rumah2 penduduk, tetapi sejak tahun ajaran baru, mereka sudah mulai numpang di sekolah SMP (Tsanawiyah) tak jauh dari situ. Tentu saja ibu Lil tak sanggup menagih biaya untuk pembelian buku itu, karena nasib ortu mereka pun tak jelas. Maka ketika aku dipaksa berpidato di depan anak2 itu, aku tak mampu menahan air mata. Mereka ini adalah aset bangsa, generasi yang akan mewarisi kelanjutan negeri ini, haruskah mereka dibesarkan dalam dendam dan putus asa?
Dan haruskah mereka dididik oleh guru2 yang juga tanpa harapan? bayangkan, satu guru tiap bulan hanya memperoleh imbalan Rp. 70.000 sd 150.000. Sang kepala seolah saja cuma bergaji Rp. 250.000. Itu adalah dana bos yang mereka peroleh, karena pemerintah tdk memperbolehkan adanya SPP. Betapa ironis...sementara pembantu rumah tangga di rumahku saja gajinya Rp. 400.000,- Inilah potret dunia pendidikan di tanah air kita, sebuah kisah pilu yang benar2 ada dan nyata di depan kita.
|