Suatu hari seorang kepala sekolah di Porong memintaku mengajar sulam pita, kepada seluruh warga RT 9 Desa Babatan, Besuki, Porong. Semua aku berat utk menerima, karena disamping dananya lumayan besar (tentu aku harus mencari donatur lagi), aku juga bingung jika mereka nanti sudah pintar, akan disalurkan kemana. Aku tak mungkin terus menerus menampung hasil karya mereka, resorce ku terbatas.
Tetapi setelah ada seorang teman yang mendukung, aku merasa ringan. Dan akhirnya, minggu kemarin (15/6/08) selama 2 jam aku datang untuk mereka. Ibu2 yang antusias ini telah menunggu selama 30 menit ketika aku sampai. Dan ternyata, lokasi perkampungan mereka benar2 diambang maut, persisi di depan tanggul lumpur sebelah selatan. Jadi jika sewaktu2 tanggul itu jebol, rumah2 mereka sudah pasti lenyap, seperti nasib sawah2 mereka, warung dan sekolah, pabrik tempat mrk bekerja, dan yang lain2.
Kondisi mrk saat ini jobless, tiap hari harus menghirup bau gas, air tak dapat digunakan karena bau, hanya bergantung pada sumbangan Lapindo dalam tangki2 yang sering telat. Dalam kondisi yg serba terbatas itu, mereka berharap ada kegiatan positif yang mampu memberikan lapangan pekerjaan, serta membunuh waktu yang terasa kian lambat.
|