Kita seringkali berfikir bahwa kita bisa merencanakan hidup kita dengan baik. Tetapi ternyata banyak hal dalam pengalamanku, membuktikan bahwa hidup itu seringkali tak terduga. Kesimpulannya, manusia boleh berencana, Tuhan lah yang menentukan. Mau bukti?
Minggu lalu (jumat) seharusnya aku mengendarai mobil ke Solo bersama seluruh keluarga utk menengok si bungsu yang sekolah disana. Dari Solo aku akan menuju ke Klaten untuk menghadiri pembukaan gallery ETHNIC milik Erlyn, lalu menuju Kaliurang utk reuni kecil dengan kawan2 satu angkatan kerja. Minggu pagi merayakan ultahku, bersama kawan2 lama, siang ketemu mbah Marijan....seharusnya begitulah rencananya, sempurna bukan? tetapi apa yang terjadi? Tuhan menghendaki lain.
Jumat sore jam 4.30 tiba2 sahabatku satu ruangan menangis, suaminya meninggal di Pontianak. Kejadian ini serta-merta merubah seluruh arah hidupku pada akhir pekan. sore itu juga aku mencarikan tiket kesana kemari agar kawan ini bisa ke Pontianak bersama anaknya. Dan boss menugasiku untuk mengantarnya. Sampai jauh malam blm ada kepastian tiket, karena Ponti lg ada tradisi Cheng beng...maka tiket fully booked. Alhamdulillah malam ada kabar kami dpt tiket 4 orang ke Jakarta. Gapapalah yang penting dpt dulu, ntar di Jkt grasak grusuk lagi ke Pontianak. Penerbangan jam 6, jadi aku harus bangun jam 3 pagi, keramas (karena rambut blm di creambath), sholat dan brk ke bandara jam 4.30.
Sampai di Bandara aku cek in utk 4 orang, lalu iseng2 nanya2 tiket ponti yg langsung ke loket2 nyari psw langsung ke Ponti buat teman yg berduka ini, Alhamdulillah ada yg batal 1 org, maka langsung saja kawan ini aku tinggalkan di bandara karena kami bertiga yg lain harus boarding ke Jkt. Nah sampai di Jkt kawan lain sudah menantu, Teguh BK. Dialah yg membayari kami sarapan, mencarikan kode booking garuda, dengan bantuan Victor Hutapea yg meski blm kenal wajah sdh bersusah payah menelpon tiap saat utk memastikan kami dpt tiket.
Di Cengkareng....semua penerbangan kami ampiri, sapa tahu ada peluang. Akhirnya dapat 1 saja Batavia, aku berikan kepada Lexy, anak temanku itu. Dia aku lepas di Boarding hall (masih kelas 1 sma dan sangat lugu). Lalu aku pindah terminal, ke Garuda, utk mengadu nasib ku dan Vina, kawan lain yg menemani, dibantu Teguh. Sampai di terminal 2 Teguh pergi dan kami mengadu nasib lagi. Sambil telp2 Batavia kalo2 ada yg batal maka akami bisa masuk. Ternyata sampai jam 3 semua penerbangan nihil. Kami sudah duduk berpindah2 dari 1 kafe ke kafe lain, berjalan hilir mudik antara Musholla, toko2 dan counter2. Tetapi dalam hati aku berdoa begini...
Ya Allah, aku telah berichtiyar, Sekarang seluruh nasibku ku serahkan padaMu. Kemana Engkau hendak membawa tubuhku ini, ke Pontianak? atau pulang? atau ke JOgja utk reuni? terserah. aku pasrah bongkokan. Dan sepanjang hari itu, meskipun gelisah dan lelah, mengantuk dan hampir putus asa, aku mencoba mempraktekkan hukum ketertarikan. Maka ku penuhi kepala dan pikiranku dengan kata2 yang positif...aku dapat tiket....aku dapat tiket......aku akan baik-baik saja....aku akan menikmati perjalanan, kemanapun itu....aku tertolong....dsb
Setelah mendaftar di bangku cadangan Garuda ke Pontianak dan Jogja, berkat pertolongan mas Victor Hutapea....Alhamdulillah kami dapat kepastian berangkat ke Pontianak 30 menit sebelum psw berangkat. Kami berlari-lari membayar tiket seharga 1.200.000/kepala, lalu menuju pesawat dan meletakkan pantat dengan seluruh hembusan nafas yang ada. Lalu mak bleg...kami tertidur dan terbangun oleh nasi goreng yang gurih dari mbak Pramugari.
Sesampai di Pontianak, kami di jemput mbak Nana (adik Vina) dna diajak mampir ke rumah beliau sambil sholat, barulah menuju rumah duka. Setelah pengajian kami pulang ke rumah mbak Nana yang lain. yang dijadikan tempat kost buat teman2 kantor (Agung dan Dodo) mampir makan malam kwitau yang enak dan aku dalam keadaan teler berat, langsung tidur namun terbangun akibat badanku menggigil. (kemampuanku terbatas rupanya heheheh)
Minggu Pagi.....(Ultah di Pontianak????)
Pagi2 aku dibangunin telepon anak gadisku yang mengucapkan selamat Ultah, disambung sms2 dan telepon lainnya. Rombongan kami (Aku,Vina, Aung, Dodo, Mbak Nana) makan pagi di warung kopi jalan Hijas yang ramai sekali.Suasananya mirip dengan Malaysia dan Singapore....tapi tentu saja disini lebih jorok hehehehe. Aku makan bubur pontianak yang berkuah dna berdaging, enak banget, banyak pilihan menu lain yang cocok buat sarapan, misalnya Lontong Sayur, sate sapi, dll.
Nah dari situ kami diajak berkeliling kota Pontianak, pertama ke Istana Sultan yang ada ditengah perkampungan dan nampak kurang terawat, lalu ke tugu Katulistiwa, langsung menuju ke Pengkang, sebuah kedai makan siang yang hmmmmmmm spicy dan misty...abis sambil makan sambil ngisep asap. Tempatnya agak jauh di luar kota, menuju perbatasan Malaysia (kuching)
Malam harinya kami menikmati menikmati makan malam romantis diatas sungai Kapuas, dan dibayarin lagi hehehheh ini benar2 Ultah.....selain di ajak keliling gratis......bisa nengok Pontianak (padahal Desember aku bbrp teman akan kesana semalam sbl kami nyebrang ke Kuching). Ini benar-benar kado Ultah yang luar biasa!! Thanks God......aku percaya padaMu bahwa segala sesuatu yang Kau berikan adalah yang terbaik untukku.
Terima kasih yang tak terhingga untuk pihak2 yang telah membantu kelancaran perjalanan unpredictable ini : Lilis, Teguh, Victor Hutape, Agung, Dodo, Mbak Nana n Husband, Para Pilot dan Pramugari Batavia dan Garuda, Pas Usmadi Travel agent di Pontianak yg ketemu di Bandara Juanda, mas Majid (adik mbak nana), serta pihak2 lain yang tak bisa disebutkan satu persatu.
Foto2 kegiatan akan diupload kemudian (harus dikecilin dulu biar muat) hehehehe