Hari-hari setelahmu
Ku ingin menikam sepi
Ku Ingin memenggal rindu
Ku ingin menghapus jejakmu
Tetapi kau telah menjelma sesuatu pada seluruh jiwaku.
Kau ada dalam bentuk tak nyata
Dalam jagaku, juga lelapku
Bahkan seribu satu doa telah ku mohonkan kepadaNya
Ketika asa tak lagi mampu menopang segalanya
Kupekikkan namamu pada malam-malam
Saat jeda ku dari menghitung menit bersamamu
Seperti lelah yang tak ingin pergi
Seperti mimpi sejenak dalam buaian peri
Seperti tsunami yang mengguncang bumi
Seberapa jauh aku melangkah dan menghalau perih
Tetap saja ada dirimu
Dalam kepalaku
Dalam hatiku
Dalam siangku
Dalam malamku
Waktu bagaikan sepercik gelombang, Begitu sederhana, seharusnya
Hanya dua belas bulan, Seberapa sering kita bersua?
Dalam jarak yang membentang antara kutub utara dan selatan
Sungguh, itu adalah sebuah perjuangan dua jiwa
Bersama dawai Yuuka dalam adagio yang menyayat seperti dimainkan Akatsuki
Dan kuserahkan jiwa ragaku pada semua masa itu
Begitu sederhana, seharusnya
Seakan masa depan tidaklah berharga
Sebab waktu bersamamu, bagaikan berada dalam lautan buku
Begitu mengasyikkan, melenakan, menggetarkan
Hingga tiba waktumu, kembali kepada pemilikmu
Semudah itukah dirimu pergi?
Kini aku membeku
Dalam arsiran waktu menjelang musim gugur
Sendiri diatas menhir yang sama
Dinaungi rerimbunan Sakura yang menua
Satu satu helainya berguguran, seperti buliran air mataku
Betapa ku ingin meyakini dirimu masih ada
Dalam jangkauan pelukan dan harapan
Tetapi kau telah pulang dan aku tetap disini, akan terus ada disini
Menunggu remah-remah waktu
Dimanakah jasadmu kini?
Dibelahan bumi manakah engkau mengejawantahkan diri?
Seberapa jauh jarak membentang diantara kita?
Dapatkah kau rasakan lantunan suaraku memanggil tanpa nama?
Mayapada: 27 Juli pada suatu masa (Ketika kata maaf tak lagi bermakna)