Wina Bojonegoro (Small city where I was born)

Blog EntryRintihan Hati Para Perempuan Korban LumpurMay 2, '08 1:09 AM
for everyone

Berikut ini petikan dari beberapa tulisan peserta Lomba Bercerita yang diselenggarakan pada Tgl. 26 April 2008 di Pasar Porong Baru (tempat pengungsian):

 

Ibu Indah :

Hari demi hari telah lewat sudah

Bersama beberapa kenangan abadi

Tantangan, cobaan, dan rintangan

Slalu membuntuti kehidupanku

Bagai bayangan hitam

Yang tak pernah hilang

 

Namun

Aku pasrah tuk hadapi semua ini

Biarlah semua itu jadi kenangan

Kenangan abadi hidupku

Biarlah semu itu jadi

 

 

Penuntun hidupku

Kisah hidupku yang malang ini

Akan tergores dalam benakku

Sampai kapan pun

 

Adjie RS :

(Mengasuh enam bulan lumpur purba)

 

Kau telah membangunkan lumpur purba dari pada tidurnya

Berabad-abad ia dalam sunyi menekuni kesejatian diri

Lumpur purba bukan pengecut, jika tidur saja kerjanya

Didalam gua yang hening, menjauhi kegaduhan istana raja

 

Ia tak ingin mengganggu siapapun

Bertapa ia dalam keheningan

Kemudian terbangun dari tidurnya, di pagi dini hari

Dua puluh sembilan mei dua ribu enam

Ditabrak semua dinding, dari pintu lubang sumur banjar panji

 

Hidup kemudian jadi demikian berat

Penuh geram dam sumpah serapah

Dirasakannya angina meniup rambutnya yang panjang

Dinikmatinya udara malam yang menggigit

Dihirupnya panas bumi

 

Tulang-tulang kambing dan sapi di sudut gua teronggok

Didekat api yang menyala sebentar kan mati lagi

Sehabis makan malam, apa yang lebih nikmat selain tidur lagi

Lelap dalam diri sendiri, tak mengganggu tak ingi diganggu

 

Lumpur purba meneruskan kembaranya

Menjelajahi bumi sampai ke istana para dewa

Ia ingin  berlaga dalam kegaduhan di dalam istana

Ia ingin mencari arti sebuah fenomena

 

Tapi kau telah kau membangunkan lumpur purba dari tapa tidurnya

Kau gosok kemarahannya hingga menjadi api membakar
Padang-padang, sawah-sawah, rumah-rumah dan juga makam leluhur kami

Kau tak akan sanggup memadamkannya lagi!

 

Nur :

(Bernafas dalam lumpur)

 

Hari demi hari telah aku lalui

Tapak setapak aku jalani

Untuk mengarung kehidupan yang semu

Menengok kanan, kiri dengan ruangan yang sempit

Oh....Tuhan sampai kapan

Aku harus bernafas dalam lumpur ini

Dengan becekmu, baumu serta kekecaman antek-antekmu

Yang membuat sesak nafasku

Terima kasih lapindo atas

Lumpurmu yang telah mengusir kami

 

Nur Falisyah

(Desaku tinggal kenangan)

 

Desa Renokenongo adalah desa yang tak terkenal dan juga bukan merupakan desa percontohan. Karena memang belum ada potensi dan berbagai keahlian yang membanggakan. Masyarakatnya juga menjalani kehidupan seperti layaknya orang-orang desa lainnya.

 

Walaupun hidup dengan sederhana tapi kami tetap merasa tentram dan bahagia. Kami selalu mengutamakan hidup bergotong royong dan menjaga kerukunan. Desa Renokenongo juga termasuk desa industri, terbukti dengan adanya PERTAMINA, pabrik krupuk, pabrik rokok dan pabrik pengeboran minyak (PT Lapindo Brantas Inc).

 

Tapi keadaan ini tidak berlangsung lama, ternyata Allah mempunyai rencana lain, tiba-tiba saja ditemukan semburan kecil dari PT Lapindo yang hari demi hari bertambah besar dan mengundang kecemasan kita semua.Berbagai solusi di coba mulai dari menggunakan tekhnologi canggih sampai supra natural sekalipun. Ya Allah meskipun musibah ini akibat ulah manusia tp Engkau jualah yang menghendakinya. Tak hanya perekonomian kita yang mati tapi tempat tinggal kita juga terendam lumpur.

 

Meskipun kami mendapatkan ganti rugi yang cukup lumayan tapi perasaan/kedamaian kami, kampung halaman dan tanah kelahiran kami  tak bisa digantikan dengan apapun semuanya terendam dalam lumpur dan tak sedikitpun tersisa dihati kami.

 

Lilik Kamilah :

(Anak-Anak)

 

Aku seorang ibu rumah tangga biasa, sebelum lumpur menenggelamkan rumahku kehidupan kami baisa-biasa saja. Suamiku seorang kuli bangunan. Meskipun begitu kehidupan kami aman dan harmonis. Rumah kami baru satu tahun kami tempati, tapi tiba-tiba lumpur datang dan menenggelamkan semua perjuanganku selama ini. Kami terpaksa mengungsi di pasar baru Porong. Aku hanya bisa diam dan menangis. Aku harus tetap semangat menjalani hidup, karena anak-anakku masih emmbutuhkan perhatianku.

 

Sekarang aku belajar dari keterpurukanku. Setiap kegiatan yang positif selalu aku ikuti. Melihat banyaknya anak yang lontang lantung, aku dna kawan-kawan berinisiatif bagaimana caranya agar anak-anak masa depan bangsa ini tidak mengalami hal yang tidak seharusnya. Kami berusaha mengumpulkan mereka untuk diajak bermain sambil belajar. Senyum mereka membuat semangatku bertambah, meskipun pada walnya aku harus berusaha keras agar mereka kembali ke keadaan mereka. Meskipun tidak sepenuhnya kembali, tetapi setidaknya mereka tidak terpengaruh oleh keadaan.

 

Sekarang aku mengasuh lebih dari 70 anak yang berada di pengungsian. Sebenarnya aku tidak punya latar belakang sebagai seorang pendidik. Tapi apapun bisa terjadi selama kita berkeinginan untuk belajar. Kini satu cita-citaku: ANAK-ANAK HARUS TETAP MEMPUNYAI MASA DEPAN DAN CITA-CITA.

 

 

Mardiyah :

Tragedi Senja Diatas Pelataran Suci

 

Aku terhenyak dari buaian sanubari. Di kejauhan terdengar suara kentong titir bertalu-talu. Suara pemberitahuan terdengar dari berbagai penjuru arah. Semuanya berlari menyelamatkan diri. Begitu aku melihat lumpur Lapindo terus merangsek maju, tanpa belas kasihan. Rumah-rumah warga, jalan-jalan desa, kebun-kebun milik warga, Musholla, sekolah, dan masjid Al Ayyubi semuanya tak luput terendam lumpur. Sholat Ashar yang baru saja dilaksanakan adalah sholat terakhir kalinya di masjid itu. Matahari sudah kembali ke peraduan, orang-orang berlarian dengan wajah tegang. Ibu-ibu menggendong anaknya, dibawa ke pengungsian. Truck-truck besar hilir mudik. Suasana benar-benar mencekam. Langkah demi langkah ku tapakkan kaki, sesampai di depan rumahku, kuhentikan langkah sejenak. Hati piluku berucap: Wahai rumahku, dulu kau adalah surgaku, tapi kini engkau diam membisu bagai rumah hantu.

 

Ya Allah...segalanya adalah milikMu. Hari ini Engkau ambil apa yang telah Engkau berikan pada kami. Berilah keiklasan untuk hati kami. Kalau bencana ini adalah hukuman dariMu, sungguh aku saksikan dan aku akui. Dan bahwa jasadku dan hatiku adalah sempurna ahli bermaksiat. Y Allah Gusti, sungguh maafkanlah aku, keluargaku dan kami semua. Berilah aku kekuatan, untuk berkhuznudzon kepadaMu.

 

Seorang Remaja Puteri

Tanpa Judul.

 

 Lapindo adalah perusahaan terkenal dengan pengeboran minyaknya. 27 mei 2006 tepatnya kebocoran pipa itu awalnya memang kecil. Tapi kita semua tidak menyangka kalau bisa berakibat besar sampai ke permukaan. Menggenangi jalan raya sawah dan pabrik di sekitarnya. Warga mulai berbondong-bondong mengungsi. Sampailah kami sekeluarga dan keluarga yang lain di Pasar Baru. Saat kami tiba keadaan fasilitas umum sangat memprihatinkan.

 

Tiga bulan di pengungsian membuat warga stress dan jatuh sakit. Karena banyak warga yang kehilangan mata pencarian. Di bilik yang berukuran 4 x 6 meter inilah kami harus tinggal berdesak-desakan. Tapi kami semua harus menerima dengan iklas.

 

 

 

 

 

 


perempuanapi wrote on May 2
ya allah... :( ga bisa ngomong apa2...

sementara pemilik dan penyebab musibah ini tenang2 aja...
bintangtenggara wrote on May 2
Lapindo mmg A*U
wina108 wrote on May 4
ya allah... :( ga bisa ngomong apa2...

sementara pemilik dan penyebab musibah ini tenang2 aja...
Sekarang, para pengungsi di pasar tak lagi mendapatkan jatah makan, sebentar lagi listrik juga dipadamkan. Tak tahu bagaimana nasib mereka kelak.
jep747 wrote on May 5
merinding mbak aku baca, dan gak terasa ada yang menetes dari mataku...........! :(

(wong lanang kok gampang nangis ya mbak..? yaa itulah aku....!)
wina108 wrote on May 5
jep747 said
merinding mbak aku baca, dan gak terasa ada yang menetes dari mataku...........! :(

(wong lanang kok gampang nangis ya mbak..? yaa itulah aku....!)
Syukurlah masih bs menangis mas, artinya masih punya hati nurani.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help