Berikut ini petikan dari beberapa tulisan peserta Lomba Bercerita yang diselenggarakan pada Tgl. 26 April 2008 di Pasar Porong Baru (tempat pengungsian):
Ibu Indah :
Hari demi hari telah lewat sudah
Bersama beberapa kenangan abadi
Tantangan, cobaan, dan rintangan
Slalu membuntuti kehidupanku
Bagai bayangan hitam
Yang tak pernah hilang
Namun
Aku pasrah tuk hadapi semua ini
Biarlah semua itu jadi kenangan
Kenangan abadi hidupku
Biarlah semu itu jadi
Penuntun hidupku
Kisah hidupku yang malang ini
Akan tergores dalam benakku
Sampai kapan pun
Adjie RS :
(Mengasuh enam bulan lumpur purba)
Kau telah membangunkan lumpur purba dari pada tidurnya
Berabad-abad ia dalam sunyi menekuni kesejatian diri
Lumpur purba bukan pengecut, jika tidur saja kerjanya
Didalam gua yang hening, menjauhi kegaduhan istana raja
Ia tak ingin mengganggu siapapun
Bertapa ia dalam keheningan
Kemudian terbangun dari tidurnya, di pagi dini hari
Dua puluh sembilan mei dua ribu enam
Ditabrak semua dinding, dari pintu lubang sumur banjar panji
Hidup kemudian jadi demikian berat
Penuh geram dam sumpah serapah
Dirasakannya angina meniup rambutnya yang panjang
Dinikmatinya udara malam yang menggigit
Dihirupnya panas bumi
Tulang-tulang kambing dan sapi di sudut gua teronggok
Didekat api yang menyala sebentar kan mati lagi
Sehabis makan malam, apa yang lebih nikmat selain tidur lagi
Lelap dalam diri sendiri, tak mengganggu tak ingi diganggu
Lumpur purba meneruskan kembaranya
Menjelajahi bumi sampai ke istana para dewa
Ia ingin berlaga dalam kegaduhan di dalam istana
Ia ingin mencari arti sebuah fenomena
Tapi kau telah kau membangunkan lumpur purba dari tapa tidurnya
Kau gosok kemarahannya hingga menjadi api membakar
Padang-padang, sawah-sawah, rumah-rumah dan juga makam leluhur kami
Kau tak akan sanggup memadamkannya lagi!
Nur :
(Bernafas dalam lumpur)
Hari demi hari telah aku lalui
Tapak setapak aku jalani
Untuk mengarung kehidupan yang semu
Menengok kanan, kiri dengan ruangan yang sempit
Oh....Tuhan sampai kapan
Aku harus bernafas dalam lumpur ini
Dengan becekmu, baumu serta kekecaman antek-antekmu
Yang membuat sesak nafasku
Terima kasih lapindo atas
Lumpurmu yang telah mengusir kami
Nur Falisyah
(Desaku tinggal kenangan)
Desa Renokenongo adalah desa yang tak terkenal dan juga bukan merupakan desa percontohan. Karena memang belum ada potensi dan berbagai keahlian yang membanggakan. Masyarakatnya juga menjalani kehidupan seperti layaknya orang-orang desa lainnya.
Walaupun hidup dengan sederhana tapi kami tetap merasa tentram dan bahagia. Kami selalu mengutamakan hidup bergotong royong dan menjaga kerukunan. Desa Renokenongo juga termasuk desa industri, terbukti dengan adanya PERTAMINA, pabrik krupuk, pabrik rokok dan pabrik pengeboran minyak (PT Lapindo Brantas Inc).
Tapi keadaan ini tidak berlangsung lama, ternyata Allah mempunyai rencana lain, tiba-tiba saja ditemukan semburan kecil dari PT Lapindo yang hari demi hari bertambah besar dan mengundang kecemasan kita semua.Berbagai solusi di coba mulai dari menggunakan tekhnologi canggih sampai supra natural sekalipun. Ya Allah meskipun musibah ini akibat ulah manusia tp Engkau jualah yang menghendakinya. Tak hanya perekonomian kita yang mati tapi tempat tinggal kita juga terendam lumpur.
Meskipun kami mendapatkan ganti rugi yang cukup lumayan tapi perasaan/kedamaian kami, kampung halaman dan tanah kelahiran kami tak bisa digantikan dengan apapun semuanya terendam dalam lumpur dan tak sedikitpun tersisa dihati kami.
Lilik Kamilah :
(Anak-Anak)
Aku seorang ibu rumah tangga biasa, sebelum lumpur menenggelamkan rumahku kehidupan kami baisa-biasa saja. Suamiku seorang kuli bangunan. Meskipun begitu kehidupan kami aman dan harmonis. Rumah kami baru satu tahun kami tempati, tapi tiba-tiba lumpur datang dan menenggelamkan semua perjuanganku selama ini. Kami terpaksa mengungsi di pasar baru Porong. Aku hanya bisa diam dan menangis. Aku harus tetap semangat menjalani hidup, karena anak-anakku masih emmbutuhkan perhatianku.
Sekarang aku belajar dari keterpurukanku. Setiap kegiatan yang positif selalu aku ikuti. Melihat banyaknya anak yang lontang lantung, aku dna kawan-kawan berinisiatif bagaimana caranya agar anak-anak masa depan bangsa ini tidak mengalami hal yang tidak seharusnya. Kami berusaha mengumpulkan mereka untuk diajak bermain sambil belajar. Senyum mereka membuat semangatku bertambah, meskipun pada walnya aku harus berusaha keras agar mereka kembali ke keadaan mereka. Meskipun tidak sepenuhnya kembali, tetapi setidaknya mereka tidak terpengaruh oleh keadaan.
Sekarang aku mengasuh lebih dari 70 anak yang berada di pengungsian. Sebenarnya aku tidak punya latar belakang sebagai seorang pendidik. Tapi apapun bisa terjadi selama kita berkeinginan untuk belajar. Kini satu cita-citaku: ANAK-ANAK HARUS TETAP MEMPUNYAI MASA DEPAN DAN CITA-CITA.
Mardiyah :
Tragedi Senja Diatas Pelataran Suci
Aku terhenyak dari buaian sanubari. Di kejauhan terdengar suara kentong titir bertalu-talu. Suara pemberitahuan terdengar dari berbagai penjuru arah. Semuanya berlari menyelamatkan diri. Begitu aku melihat lumpur Lapindo terus merangsek maju, tanpa belas kasihan. Rumah-rumah warga, jalan-jalan desa, kebun-kebun milik warga, Musholla, sekolah, dan masjid Al Ayyubi semuanya tak luput terendam lumpur. Sholat Ashar yang baru saja dilaksanakan adalah sholat terakhir kalinya di masjid itu. Matahari sudah kembali ke peraduan, orang-orang berlarian dengan wajah tegang. Ibu-ibu menggendong anaknya, dibawa ke pengungsian. Truck-truck besar hilir mudik. Suasana benar-benar mencekam. Langkah demi langkah ku tapakkan kaki, sesampai di depan rumahku, kuhentikan langkah sejenak. Hati piluku berucap: Wahai rumahku, dulu kau adalah surgaku, tapi kini engkau diam membisu bagai rumah hantu.
Ya Allah...segalanya adalah milikMu. Hari ini Engkau ambil apa yang telah Engkau berikan pada kami. Berilah keiklasan untuk hati kami. Kalau bencana ini adalah hukuman dariMu, sungguh aku saksikan dan aku akui. Dan bahwa jasadku dan hatiku adalah sempurna ahli bermaksiat. Y Allah Gusti, sungguh maafkanlah aku, keluargaku dan kami semua. Berilah aku kekuatan, untuk berkhuznudzon kepadaMu.
Seorang Remaja Puteri
Tanpa Judul.
Lapindo adalah perusahaan terkenal dengan pengeboran minyaknya. 27 mei 2006 tepatnya kebocoran pipa itu awalnya memang kecil. Tapi kita semua tidak menyangka kalau bisa berakibat besar sampai ke permukaan. Menggenangi jalan raya sawah dan pabrik di sekitarnya. Warga mulai berbondong-bondong mengungsi. Sampailah kami sekeluarga dan keluarga yang lain di Pasar Baru. Saat kami tiba keadaan fasilitas umum sangat memprihatinkan.
Tiga bulan di pengungsian membuat warga stress dan jatuh sakit. Karena banyak warga yang kehilangan mata pencarian. Di bilik yang berukuran 4 x 6 meter inilah kami harus tinggal berdesak-desakan. Tapi kami semua harus menerima dengan iklas.