Wina Bojonegoro (Small city where I was born)

Blog EntryPuisi Seorang PelacurFeb 12, '08 9:43 PM
for everyone

Puisi Seorang Pelacur.

 

Seperti apakah wajah kekasih?

Seperti langit yang biru dihiasi awan putih?

Seperti laut yang tenang nampak menggemaskan namun mematikan?

Betapa malam telah berganti dan tahun bertambah

Telah kusesapi berjuta-juta cangkir kopi dengan pekatnya yang mengundang

Juga kutelisih pada desah-desah gendang besar diantara musik-musik dangdut

Pada Irama campur sari hingga musik dakwah Oma Irama

Atau di lembah Baliem, hingga Lembah Ngarai

Diantara jasad-jasad Tsunami

Atau sampah-sampah scala Richter

Namun tetap saja aku merasa sepi

Seperti sebuah seruling bernyanyi sendiri tanpa domba-domba

 

Seperti apakah wajah kekasih?

Lagi kau kumandangkan tanya itu

Kita saling bersitatap pada selembar cermin

Bukankah kita sepasang kekasih?

Kau tersenyum dan berkata.....bukan!

Kita adalah sepasang pelaku ekonomi.

 

Surabaya, 11 Feb 2008


maryanto77 wrote on Feb 12
hemm menyentuh .........
kesabaran wrote on Feb 12
sang fajar harus disongsong ..
sang fajar jangan ditunggu dengan rehat ..
langkah songsonganmu kepada sang fajar .. menjadi alasan-Nya
menyelamatkan dirimu dari para pelaku ekonomi
wina108 wrote on Feb 12
hemm menyentuh .........
Matur Nuwun......
wina108 wrote on Feb 12
sang fajar harus disongsong ..
sang fajar jangan ditunggu dengan rehat ..
langkah songsonganmu kepada sang fajar .. menjadi alasan-Nya
menyelamatkan dirimu dari para pelaku ekonomi
Pelacur jg punya hati ya mas....dia perlu hati seorang laki2 yang mampu menjadikan dirinya manusia seutuhnya, normal, ber martabat, dikasihi dan mengasihi, jangan malah disiram air cuka seperti Siti Nurjazila....
kesabaran wrote on Feb 13
benar.. tapi apakah akan selamanya dia akan menjadi pelacur? siapa lagi yang akan mengingatkan jika bukan kita .. dan siapa lagi yang harus berkemauan untuk berubah jika bukan dirinya sendiri...
rudypinem wrote on Feb 14
Melacur sebagai pekerjaan, mestinya memiliki "nilai" yang sama dengan pekerjaan lain di muka bumi. Pelacur sebagai identitas pekerja, mestinya memiliki "nilai" yang tidak lebih rendah dari pencari nafkah lain semisal dokter atau pengacara.

Masalahnya adalah, seringkali kita menafikan diri, melupakan batas antara pekerjaan dan "nilai" sebagai manusia. Lantas dengan naif begitu gampang memberi "nilai" yang pantas atas diri seseorang berdasarkan pekerjaannya. Bukan hal aneh jika para dokter di Indonesia sudah terjebak menjadi makelar perusahaan farmasi, yang memperbudak pencari kesehatan dengan berbagai obat yang seringkali tak perlu. Bukan rahasia lagi, jika keadilan bisa dibeli melalui makelar2 yang tanpa malu menawarkan jasa. Lantas atas dasar apa kita memberi "nilai" lebih tinggi kepada pekerjaan mereka dibanding melacur sebagai pekerjaan?

12 tahun lalu, seorang sahabat yang aktif berkecimpung untuk pemberdayaan PSK di salah satu lokalisasi di Jogja pernah berkisah.
Suatu malam, ketika dia tengah mengajak sahabatnya, seorang PSK, untuk jalan-jalan menikmati malam, keluar dari lokalisasi, dua orang lelaki berboncengan naik sepeda motor tiba-tiba berhenti di hadapan mereka.
Ternyata mereka adalah klien tetap si PSK dan memang datang untuk untuk membeli jasa si PSK.
Dengan halus si PSK menolak ajakan mereka, karena ada keperluan lain, menemani sahabatnya jalan-jalan malam.
Tapi reaksi kedua lelaki tersebut ternyata sungguh mengecewakan, memaki-maki dengan kata-kata kasar, sembari merendahkan si PSK bahwa dia tak lebih dari sekian rupiah belaka.
Harga diri si PSK tiba-tiba terbakar dan ia mengamuk sejadi-jadinya.
"Di dalam sana, kamu bisa perlakukan aku sesukamu, sepanjang kamu membayar. Dan urusanku selesai ketika aku selesai meladeni k****l-mu dan kamu membayar pelayananku. Tapi di sini, di luar pagar lokalisasi ini, kamu tidak punya hak mengatur hidupku, apalagi merendahkan aku. Di dalam sana aku memang seorang l**te, tapi begitu keluar dari pagar tersebut, aku tidak ada bedanya dengan kamu."
Sambil meludahi wajah kedua lelaki sialan itu, diapun bergegas mengajak sahabatnya untuk meneruskan perjalanan.

Tidak ada manusia yang tidak punya cacat.
Kesempurnaan hanya milik sang Absolut.

Saran saya, jika ada yang berminat "merubah" kehidupan seorang PSK, tempatnya bukanlah di mimbar-mimbar ceramah keagamaan, apalagi hanya di dunia maya seperti ini.
Take one to know one rather than criticize something that we don't understand.
Datanglah kepada mereka, berbicaralah langsung kepada mereka, sentuh hatinya dengan keikhlasanmu.

Salam damai di hari kasih sayang.
wina108 wrote on Feb 15
Rudy...waduh tanggapanmu dalem banget.....kapan2 aku posting cerpen tentang itu, sekarang aku lagi diluar kota jadi ga bis aupload. Terima kasih telah memberi pencerahan dan pemahaman yang sungguh sangat bijaksana, semoga dengan membaca ini, semakin meluaskan sudut pandang para pembaca tentang 'sesuatu'.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help