Seperti telah terbayang sebelumnya, lebaran kali ini pasti tak akan pernah sama. Ayahku telah pulang ke Alam lain, sehingga enggan sekali untuk pulang kampung, karena memang tak ada yang layak di pulangi. Anak perempuanku ke mertuanya, anak laki-laki ke rumah neneknya di Solo. Begitulah.......
Tahun lalu aku masih sempat mencium pipi ayah yang kisut itu, beliau meneteskan air mata, untuk pertama kalinya di hadapanku. Dan untuk pertama kalinya pula, ayah menelponku ketika rombongan kami melaju menuju Salatiga. Ia bertanya apakah cuaca baik2 saja? Lalu memintaku untuk hati-hati. Hal semacam itu saja sudah membuatku merasa begitu bahagia, dan emangis karena hal ini langka.
Tahun ini aku hanya bisa berdoa untuknya. Dan berdoa untuk yang lainnya....dalam sholat Dhuha yang sempat kudirikan ketika pagi terasa begitu senyap. Dan untuk semua handai taulan di seluruh jagad Multiply, sekiranya ada kilaf yang aku terbitkan baik sengaja maupun tidak, maka sekaranglah saatnya untuk memohon maaf. Semoga kita semua tergolong orang-orang yang bisa kembali fitri.